Dahaga
Ranah, Kemarau Rantau
Setiap tahun, kita menyaksikan fenomena
yang sama di Indonesia, yakni orang-orang kembali ke kampung halaman
masing-masing. Istilah yang dipakai adalah mudik. Yang terjadi adalah
perpindahan sejumlah manusia dalam jumlah besar untuk sementara, dari kota
(rantau) ke desa (ranah). Perpindahan yang tak mudah, justru di era kemajuan
sarana transportasi. Kalau benar-benar tidak beruntung, perpindahan itu juga
berarti perjalanan menuju kematian atau minimal cacat seumur hidup.
Sudah banyak
ulasan kenapa mudik menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia. Menurut
data Kementerian Perhubungan RI, jumlah pemudik tahun 2011 diperkirakan 15,4
Juta jiwa. Tidak semua berhasil mudik, karena meninggal di jalanan atau masuk
rumah sakit. Angka yang tewas lebih dari 500 orang, setengah dari korban gempa
Sumbar 2009. Ada juga yang meninggal setelah balik ke kota, akibat kelelahan
menempuh perjalanan panjang.
Tradisi mudik
juga membawa berkah bagi daerah. Uang yang mengalir diperkirakan mencapai Rp.
61 Trilyun. Atau hampir 100 kali lipat APBD Kab Padang Pariaman yang berjumlah
Rp. 795 Milyar. Dengan cara seperti ini, sekali dalam setahun terjadi proses
pengembalian uang ke daerah, setelah sepanjang tahun uang daerah disedot pusat.
Keunikan ini tentu diluar transfer yang dilakukan para perantau kepada
keluarganya di kampung.
Sumatera Barat
menjadi salah satu daerah yang memiliki kesibukan istimewa dalam setiap kali
lebaran. Orang-orang di rantau biasanya akan pulang, sekalipun kurang dari seminggu.
Kerinduan akan ranah disimpan sepanjang tahun, bahkan bertahun-tahun. Kegagalan
atau keberhasilan di rantau menjadi ukuran dari seberapa sering pulang kampung.
Siapapun anak rantau yang pulang dijadikan panutan, apalagi kalau berhasil
membawa sejumlah anak kampung lain untuk ikut merantau. Tali kekerabatan yang
kuat membuhul hubungan-hubungan ekonomi yang khas.
Sudah lama
diketahui bahwa perantau Minangkabau menguasai pasar-pasar tradisional di
sejumlah daerah, misalnya Medan, Pekanbaru dan Jakarta. Masalahnya, secara
nasional, pasar-pasar tradisional mengalami penyusutan jumlah dan besaran.
Super market dan mini market kini menguasai hampir setiap pengkolan jalan.
Tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa orang Minang itu selangkah lebih
maju dari orang Tionghoa. Kenapa? Di depan ruko atau toko orang-orang Tionghoa,
terdapat dagangan kaki lima orang-orang Minang.
Semula, hanya
dengan menjadi pedagang, perantau Minang bisa mengisi sektor pekerjaan yang
tidak semua suku bangsa Indonesia mampu melakukannya. Daerah-daerah baru
biasanya menarik para perantau untuk betul-betul beradu untung. Lama-kelamaan,
proses ini berlanjut dengan menetap di daerah-daerah itu, membentuk komunitas,
bahkan melangsungkan perkawinan dengan penduduk setempat. Organisasi para
perantau berkembang dengan baik, sebagai bagian dari upaya mempertahankan
soliditas kelompok.
Dalam era
demokrasi, para perantau ini masuk ke lembaga-lembaga demokrasi, terutama di
daerah-daerah yang memang mayoritas. Jadi, semakin banyak anggota legislatif
di suatu daerah di luar Sumbar yang diisi oleh orang-orang Minang. Kemampuan
dalam adu argumentasi di pasar-pasar, beralih ke lembaga-lembaga demokrasi.
Sebagian yang lain masuk dalam komunitas keagamaan, sehingga terkenal sebagai
alim-ulama yang mumpuni. Perkembangan ini terjadi dalam jalinan tahun dan abad.
Minang tidak
lagi sekadar Minang, melainkan Minang menjadi bagian (penting) keindonesiaan.
Sejumlah politisi, sekaligus intelektual, asal Minang muncul sebagai pemberi
saham atas bangunan keindonesiaan awal. Sekarang, mereka berada di banyak
daerah, sebagai bagian dari komunitas keindonesiaan yang sedang
terombang-ambing dalam pertaruhan demokrasi melawan otoritarianime.
Dari paparan
itu, terlihat bahwa Minang tidak (lagi) hanya sebagai komunitas ekonomi,
melainkan juga politik, keagamaan, bahkan menghasilkan banyak negarawan besar.
Orang Minang tidak hanya sekadar mencari kehidupan duniawi berupa keberhasilan
secara ekonomi, melainkan juga menggali terus kehidupan kenegaraan dan
akherat. Sekalipun adat tidak bisa dibawa ke rantau, dalam bentuk yang sama
persis, namun sebagai identitas kultural terus dipertahankan dalam bentuk
kegiatan seni dan budaya di rantau masing-masing.
Dan semua hal
itulah yang dibawa kembali ke ranah, ketika mudik. Ada yang positif, ada juga
yang negatif. Yang negatif, misalnya, membawa minum-minuman keras dan bahkan
narkoba untuk dikonsumsi di area-area publik seperti tepi pantai. Ada juga yang
tipis telinganya, sehingga mudah menunjukkan “Siapa Saya” (Sia Aden) dalam
senggol-senggolan di acara kendurian (baralek). Yang positif, tentu
menebarkan ilmu pengetahuan yang didapat di rantau untuk dicerna masyarakat di
ranah, dengan beragam tafsiran masing-masing.
Ranah kini
haus dengan beragam informasi dari rantau. Tidak sekadar informasi, tetapi juga
ilmu pengatahuan dan metode-metode baru dalam menyelesaikan begitu banyak
masalah di ranah. Ranah yang dihantam oleh beragam serbuan informasi mentah,
setengah mentah ataupun mengada-ada lewat media televisi, memerlukan nilai-nilai
tersendiri untuk menyaring dan mengendalikannya. Ranah yang dahaga ini layak
diberikan kesegaran baru, berupa air minum ilmu pengetahuan yang tak lekang
oleh panas, tak lapuk oleh hujan.
Kenapa
terbalik? Bukankah selama ini ranah menyediakan segalanya? Nah, kita perlu merenungkan
baik-baik. Bukankah rantau juga sedang kemarau, dengan semakin marginalnya
pasar-pasar tradisional, misalnya? Di titik ini terdapat esensi perlunya
sinergi ranah dengan rantau yang sama-sama dahaga, sama-sama kekeringan, agar
ranah tak hilang, rantau tak melayang, dilamun oleh tsunami krisis multi-dimensional
dalam skala yang lebih luas.
copas dari www.indrapiliang.com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar