Kamis, 12 November 2015

boarding school dalam perspektif sosiologi

 “Boarding School dalam Perspektif Sosiologi”



A.  PENDAHULUAN
Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis. Lembaga-lembaga pendidikan tidak mampu lagi mengatasi permasalahan pendidikan sehingga sosiolog diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran untuk memecahkan masalah tersebut yang fundamental. Hal ini terjadi karena masyarakat mengalami perubahan sangat cepat, progresif, dan sering menunjukkan gejala disintegratif (berkurangnya kesetiaan terhadap nilai-nilai umum). Perubahan yang begitu cepat menimbulkan cultural lag (ketinggalan kebudayaan akibat adanya hambatan-hambatan). Cultural lag ini merupakan sumber masalah sosial dalam masyarakat termasuk dalam dunia pendidikan. (Gunawan, 2010: 46)
Permasalahan yang terjadi didalam masyarakat berdampak pada dunia pendidikan. Dengan terjadinya pergaulan bebas, peredaran narkoba, kehidupan metropolitan yang tidak aman menyebabkan orang tua over protective dalam memilih sekolah untuk anak. Dinegara atau masyarakat maju tidak sedikit orangtua berebut memasukkan anak mereka memasuki sekolah yang tergolong favorit (Gunawan, 2010: 64). Suatu sekolah menjadi favorit bagi orangtua dan masyarakat karena sekolah tersebut mempunyai kualitas yang bagus melalui prestasi dan mampu mengasilkan lulusan yang life ready. Untuk itu nilai-nilai sekolah haruslah bersikap antipatif dalam proses pertumbuhan dari masa sekarang menuju masa depan dengan nilai-nilai, visi, misi dan strategi serta program yang jelas. secara internal. Sekolah haruslah berupaya membangun sistem kelembagaan yang efisien. Secara eksternal, sekolah haruslah memperhitungkan reputasi dan legitimasinya dimata masyarakat, dengan asumsi jika reputasi dan legitimasi itu bagus maka sekolah akan dengan mudah meraih dukungan dari masyarakan termasuk orangtua (Maliki, 2008: 276)
Di Indonesia akhir-akhir ini terdapat perkembangan dalam bidang pendidikan melalui munculnya sekolah berasrama baik dengan mengusung kurikulum tambahan dalam keagamaan maupun berbasis nasionalisme, yang dikenal dengan istilah boarding school. Siswa berpisah dengan orang tua dan hidup bersama orang-orang baru diantaranya teman dan pembina asrama. Untuk itu siswa harus berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Melalui boarding school, siswa diharapkan tidak hanya sukses menyesuaikan diri dengan lingkungan namun juga meningkatkan prestasi anak (Maslihah, 2011: 103-104).

B.  PEMBAHASAN
Bagi siswa yang boarding school tidak mudah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru, memenuhi tuntutan untuk mengikuti pendidikan yang baik melalui prestasi yang baik karena mereka berada pada masa transisi. Namun sebuah keniscayaan bagi siswa untuk melakukan penyesuaian diri terhadap kondisi serta aturan-aturan sekolah yang berlaku dan formulatif. Ketika dirumah anak mendapatkan perhatian yang lebih dari keluarga dan ketika sekolah yang memberikan perhatian tidak sebanyak yang dirumah karena harus berbagi dengan anak-anak yang lain.untuk itu, anak-anak harus bersosialisasi disekolah dan guru juga harus menyesuaikan diri dengan tuntutan atau kondisi sekolah (Gunawan, 2010: 50). 
Melalui boarding school, intensitas anak berinteraksi dengan komponen sekolah terutama teman-teman sekolah dan guru sekaligus Pembina asrama lebih lama. Sehingga bisa menimbulkan dampak positif dan negatif bagi siswa. Adapun dampak positifnya, melalui pendidikan formal disekolah siswa memperoleh berupa pembentukan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baik. Sehingga terbentuklah kepribadian siswa untuk tekun dan rajin belajar disertai keinginan untuk meraih cita-cita akademis yang setinggi-tingginya. Sementara dampak negatifnya, akibat berinteraksi dengan teman-teman sekolahnya yang kurang tertib, pembolos, malas belajar, dan kurang bisa mengendalikan sikap-sikap yang tidak akademis apalagi dengan intensitas yang tinggi maka berpengaruh terhadap keperibadian siswa tersebut. Akibatnya prestasi akademisnya merosot dan memiliki sikap yang tidak baik (Gunawan, 2010: 57-58). Dalam kondisi ini, peran komponen sekolah yang lain kepala sekolah, guru, tata usaha dan pembina asrama sangat dibutuhkan. Semua komponen tersebut harus mengontrol pelaksanaan aturan sehingga aturan sekolah dapat dilaksanakan secara konsisten demi tercapainya tujuan dilaksanakannya boarding school.
Guru memiliki peran yang sangat penting bagi siswa baik dalam kondisi formal didalam kelas maupun distuasi informal diluar kelas. Dalam kelas guru harus memunyai kewibawaan dan otoritas tinggi, menguasai kelas dan mengontrol siswa. Hal ini penting untuk menjalankan peran selain sebagai pengajar juga sebagai pendidik. Selain itu guru juga harus memberikan keteladanan dan kewibaan kepada murid sehingga bimbingan yang diberikan oleh guru dapat diterima oleh murid. Karena kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang komplementer untuk menjamin adanya disiplin (Karsidi, 2007: 81-83
Di Sekolah boarding school, guru sering juga merangkap sekaligus sebagai pembina asrama. Dengan kondisi ini, guru selain mengontrol dan mendidik siswa didalam kelas, guru juga mendidik dan mengontrol siswa di asrama. Guru haruslah menjalin kedekatan dengan siswa karena hanya dengan kedekatan, rasa saling percaya akan muncul. Ketika siswa memiliki problem, siswa akan mengkomunikasikan secara terbuka kepada guru sehingga dapat dicarikan solusi yang tepat sasaran secara bersama-sama. Namun membaurnya guru dengan siswa bukan berarti melebur karena kewibaan sebagai guru haruslah tetap dijaga untuk mengontrol pelaksanaan aturan. Kerjasama antara guru dan siswa adalah hal yang terpenting.
Guru selain menjalin kerjasama dengan siswa, guru dan komponen sekolah lain haruslah menjalin kerjasama dengan orangtua. Ketika anak tinggal diasrama, orangtua tidak lepas tangan. Akan tetapi keluarga terus mengawasi perkembangan anak dan memberikan keteladanan. Dengan demikian anak merasa mendapat dukungan dari keluarga sehingga tidak tertekan dengan kondisi asrama yang butuh penyesuaian (Maslihah, 2011: 104). Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, sekolah dan keluarga saling bertanggung jawab untuk mendidik anak. Orang tua berkoordinasi dengan sekolah untuk kemajuan anak (Ahmadi, 2007: 111)
Pengakuan guru dan orang tua terhadap kemampuan dan kualitas anak sangat dibutuhkan karena anak merasa dihargai dan disayangi sehingga energy positifnya. Kontinuitas dukungan terhadap perkembangan anak akan menentukan prestasi anak dan perkembangan emosi anak karena lingkungan keluargan, sekolah, dan masyarakat adalah faktor eksternal yang mempengaruhi anak (Maslihah, 2011: 111-113). Namun hal yang juga harus diperhatikan adalah kerjasama dengan masyarakat. Karena Masyarakat bisa menjadi sumber belajar, memahami secara luas tentang kehidupan masyarakat dan yang dipelajari disekolah seharusnya memberikan manfaat untuk anak  dalam hidup bermasyarakat (Abdullah, 2011: 69)
Dengan terjalinnya kerjasama tersebut, maka akan tercipta hubungan yang harmonis antara siswa, komponen sekolah diantaranya guru, orangtua, dan masyarakat. Bahkan dengan kerjasama tersebut, hubungan antara siswa dengan siswa juga akan harmonis karena aturan berjalan serta terkontrol secara optimal sehingga akan menunjukkan suasana yang edukatif. Sesama murid saling berkawan, saling bercerita, saling mengingatkan dalam menegakkan kedisiplinan, dan saling harga-menghargai  (Karsidi, 2007: 60).

C.  PENUTUP
Sekolah merupakan miniatur masyarakat yang memiliki peran siginifikan dalam pembentukan generasi muda (siswa). Karena disekolah terjadi proses pengajaran keterampilan dan macam-macam standar pengetahuan yang akan diserap dan dipahami siswa untuk memainkan perannya dalam masyarakat. Melalui boarding school, dengan pengontrolan maka penanaman nilai-nilai akan lebih optimal sehingga tujuan meningkatkan prestasi siswa baik secara akademik maupun agam sesuai tuntutan dan tujuan sekolah. Dalam pelaksanaan boarding school, orangtua atau keluarga juga mempunyai peran yang sangat signifikan bagi perkembangan individu. Jadi, peran pembentukan yang dilaksanakan oleh keluarga dan sekolah akan memmbentuk peran individu dalam masyarakat tempat dimana individu berada (Karsidi, 2007: 60-62)
Untuk itu, kerjasama (partnerships) dalam pengembangan pendidikan sangat diperlukan. Kerjasama tersebut antara lain antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan adanya kerjasama tersebut akan membantu semua anak didik untuk sukses di Sekolah dan kehidupan dikemudian hari. hal ini merupakan bentuk kepedulian terhadap perkembangan dan pertumbuhan generasi muda (Abdullah, 2011: 68)


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Idi. 2011. Sosilogi pendidikan.; individu, masyarakat, dan pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Ahmadi, abu. 2007. Sosiologi pendidikan. Jakarta: Asdi Mahasatya

Gunawan, Ary H. 2010. Sosiologi Pendidikan; Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Karsidi, Ravik. 2007. Sosiologi Pendidikan. Surakarta: UNS Press

Maliki, Zainuddin. 2008. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Maslihah, Sri. 2011. Studi tentang Hubungan Dukungan Sosial, Penyesuaian Sosial di Lingkungan Sekolah dan Prestasi Akademik Siswa SMPIT Assyfa Boarding School Subang Jawa Barat. Jurnal Psikologi Undip. Vol 10. No. 2: 103-114


Tidak ada komentar:

Posting Komentar