“Boarding School dalam Perspektif Sosiologi”
A. PENDAHULUAN
Sosiologi
pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah
pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis. Lembaga-lembaga
pendidikan tidak mampu lagi mengatasi permasalahan pendidikan sehingga sosiolog
diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran untuk memecahkan masalah tersebut yang
fundamental. Hal ini terjadi karena masyarakat mengalami perubahan sangat
cepat, progresif, dan sering menunjukkan gejala disintegratif (berkurangnya
kesetiaan terhadap nilai-nilai umum). Perubahan yang begitu cepat menimbulkan cultural lag (ketinggalan kebudayaan
akibat adanya hambatan-hambatan).
Cultural lag ini merupakan sumber masalah sosial dalam masyarakat termasuk
dalam dunia pendidikan. (Gunawan, 2010: 46)
Permasalahan
yang terjadi didalam masyarakat berdampak pada dunia pendidikan. Dengan
terjadinya pergaulan bebas, peredaran narkoba, kehidupan metropolitan yang
tidak aman menyebabkan orang tua over
protective dalam memilih sekolah untuk anak. Dinegara atau masyarakat maju
tidak sedikit orangtua berebut memasukkan anak mereka memasuki sekolah yang
tergolong favorit (Gunawan, 2010: 64). Suatu sekolah menjadi favorit bagi
orangtua dan masyarakat karena sekolah tersebut mempunyai kualitas yang bagus
melalui prestasi dan mampu mengasilkan lulusan yang life ready. Untuk itu nilai-nilai sekolah haruslah bersikap
antipatif dalam proses pertumbuhan dari masa sekarang menuju masa depan dengan
nilai-nilai, visi, misi dan strategi serta program yang jelas. secara internal.
Sekolah haruslah berupaya membangun sistem kelembagaan yang efisien. Secara
eksternal, sekolah haruslah memperhitungkan reputasi dan legitimasinya dimata
masyarakat, dengan asumsi jika reputasi dan legitimasi itu bagus maka sekolah
akan dengan mudah meraih dukungan dari masyarakan termasuk orangtua (Maliki,
2008: 276)
Di
Indonesia akhir-akhir ini terdapat perkembangan dalam bidang pendidikan melalui
munculnya sekolah berasrama baik dengan mengusung kurikulum tambahan dalam
keagamaan maupun berbasis nasionalisme, yang dikenal dengan istilah boarding school. Siswa berpisah dengan
orang tua dan hidup bersama orang-orang baru diantaranya teman dan pembina
asrama. Untuk itu siswa harus berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
baru. Melalui boarding school, siswa
diharapkan tidak hanya sukses menyesuaikan diri dengan lingkungan namun juga
meningkatkan prestasi anak (Maslihah, 2011: 103-104).
B. PEMBAHASAN
Bagi
siswa yang boarding school tidak
mudah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru, memenuhi
tuntutan untuk mengikuti pendidikan yang baik melalui prestasi yang baik karena
mereka berada pada masa transisi. Namun sebuah keniscayaan bagi siswa untuk
melakukan penyesuaian diri terhadap kondisi serta aturan-aturan sekolah yang
berlaku dan formulatif. Ketika dirumah anak mendapatkan perhatian yang lebih
dari keluarga dan ketika sekolah yang memberikan perhatian tidak sebanyak yang
dirumah karena harus berbagi dengan anak-anak yang lain.untuk itu, anak-anak
harus bersosialisasi disekolah dan guru juga harus menyesuaikan diri dengan
tuntutan atau kondisi sekolah (Gunawan, 2010: 50).
Melalui
boarding school, intensitas anak
berinteraksi dengan komponen sekolah terutama teman-teman sekolah dan guru
sekaligus Pembina asrama lebih lama. Sehingga bisa menimbulkan dampak positif
dan negatif bagi siswa. Adapun dampak positifnya, melalui pendidikan formal
disekolah siswa memperoleh berupa pembentukan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan,
dan sikap yang baik. Sehingga terbentuklah kepribadian siswa untuk tekun dan
rajin belajar disertai keinginan untuk meraih cita-cita akademis yang
setinggi-tingginya. Sementara dampak negatifnya, akibat berinteraksi dengan teman-teman
sekolahnya yang kurang tertib, pembolos, malas belajar, dan kurang bisa
mengendalikan sikap-sikap yang tidak akademis apalagi dengan intensitas yang
tinggi maka berpengaruh terhadap keperibadian siswa tersebut. Akibatnya
prestasi akademisnya merosot dan memiliki sikap yang tidak baik (Gunawan, 2010:
57-58). Dalam kondisi ini, peran komponen sekolah yang lain kepala sekolah,
guru, tata usaha dan pembina asrama sangat dibutuhkan. Semua komponen tersebut harus
mengontrol pelaksanaan aturan sehingga aturan sekolah dapat dilaksanakan secara
konsisten demi tercapainya tujuan dilaksanakannya boarding school.
Guru
memiliki peran yang sangat penting bagi siswa baik dalam kondisi formal didalam
kelas maupun distuasi informal diluar kelas. Dalam kelas guru harus memunyai
kewibawaan dan otoritas tinggi, menguasai kelas dan mengontrol siswa. Hal ini
penting untuk menjalankan peran selain sebagai pengajar juga sebagai pendidik.
Selain itu guru juga harus memberikan keteladanan dan kewibaan kepada murid
sehingga bimbingan yang diberikan oleh guru dapat diterima oleh murid. Karena
kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang komplementer untuk menjamin
adanya disiplin (Karsidi, 2007: 81-83
Di
Sekolah boarding school, guru sering
juga merangkap sekaligus sebagai pembina asrama. Dengan kondisi ini, guru
selain mengontrol dan mendidik siswa didalam kelas, guru juga mendidik dan
mengontrol siswa di asrama. Guru haruslah menjalin kedekatan dengan siswa
karena hanya dengan kedekatan, rasa saling percaya akan muncul. Ketika siswa
memiliki problem, siswa akan
mengkomunikasikan secara terbuka kepada guru sehingga dapat dicarikan solusi
yang tepat sasaran secara bersama-sama. Namun membaurnya guru dengan siswa
bukan berarti melebur karena kewibaan sebagai guru haruslah tetap dijaga untuk
mengontrol pelaksanaan aturan. Kerjasama antara guru dan siswa adalah hal yang
terpenting.
Guru
selain menjalin kerjasama dengan siswa, guru dan komponen sekolah lain haruslah
menjalin kerjasama dengan orangtua. Ketika anak tinggal diasrama, orangtua
tidak lepas tangan. Akan tetapi keluarga terus mengawasi perkembangan anak dan
memberikan keteladanan. Dengan demikian anak merasa mendapat dukungan dari
keluarga sehingga tidak tertekan dengan kondisi asrama yang butuh penyesuaian
(Maslihah, 2011: 104). Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, sekolah dan keluarga saling
bertanggung jawab untuk mendidik anak. Orang tua berkoordinasi dengan sekolah
untuk kemajuan anak (Ahmadi, 2007: 111)
Pengakuan
guru dan orang tua terhadap kemampuan dan kualitas anak sangat dibutuhkan
karena anak merasa dihargai dan disayangi sehingga energy positifnya.
Kontinuitas dukungan terhadap perkembangan anak akan menentukan prestasi anak
dan perkembangan emosi anak karena lingkungan keluargan, sekolah, dan
masyarakat adalah faktor eksternal yang mempengaruhi anak (Maslihah, 2011:
111-113). Namun hal yang juga harus diperhatikan adalah kerjasama dengan
masyarakat. Karena Masyarakat bisa menjadi sumber belajar, memahami secara luas
tentang kehidupan masyarakat dan yang dipelajari disekolah seharusnya
memberikan manfaat untuk anak dalam
hidup bermasyarakat (Abdullah, 2011: 69)
Dengan
terjalinnya kerjasama tersebut, maka akan tercipta hubungan yang harmonis
antara siswa, komponen sekolah diantaranya guru, orangtua, dan masyarakat.
Bahkan dengan kerjasama tersebut, hubungan antara siswa dengan siswa juga akan
harmonis karena aturan berjalan serta terkontrol secara optimal sehingga akan menunjukkan
suasana yang edukatif. Sesama murid saling berkawan, saling bercerita, saling
mengingatkan dalam menegakkan kedisiplinan, dan saling harga-menghargai (Karsidi, 2007: 60).
C. PENUTUP
Sekolah
merupakan miniatur masyarakat yang memiliki peran siginifikan dalam pembentukan
generasi muda (siswa). Karena disekolah terjadi proses pengajaran keterampilan
dan macam-macam standar pengetahuan yang akan diserap dan dipahami siswa untuk
memainkan perannya dalam masyarakat. Melalui boarding school, dengan pengontrolan maka penanaman nilai-nilai
akan lebih optimal sehingga tujuan meningkatkan prestasi siswa baik secara
akademik maupun agam sesuai tuntutan dan tujuan sekolah. Dalam pelaksanaan boarding school, orangtua atau keluarga juga
mempunyai peran yang sangat signifikan bagi perkembangan individu. Jadi, peran pembentukan
yang dilaksanakan oleh keluarga dan sekolah akan memmbentuk peran individu
dalam masyarakat tempat dimana individu berada (Karsidi, 2007: 60-62)
Untuk
itu, kerjasama (partnerships) dalam
pengembangan pendidikan sangat diperlukan. Kerjasama tersebut antara lain
antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan adanya kerjasama tersebut akan
membantu semua anak didik untuk sukses di Sekolah dan kehidupan dikemudian
hari. hal ini merupakan bentuk kepedulian terhadap perkembangan dan pertumbuhan
generasi muda (Abdullah, 2011: 68)
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah,
Idi. 2011. Sosilogi pendidikan.;
individu, masyarakat, dan pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Ahmadi,
abu. 2007. Sosiologi pendidikan. Jakarta:
Asdi Mahasatya
Gunawan,
Ary H. 2010. Sosiologi Pendidikan; Suatu
Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka
Cipta
Karsidi,
Ravik. 2007. Sosiologi Pendidikan. Surakarta:
UNS Press
Maliki,
Zainuddin. 2008. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
Maslihah,
Sri. 2011. Studi tentang Hubungan
Dukungan Sosial, Penyesuaian Sosial di Lingkungan Sekolah dan Prestasi Akademik
Siswa SMPIT Assyfa Boarding School Subang Jawa Barat. Jurnal Psikologi Undip. Vol
10. No. 2: 103-114
Tidak ada komentar:
Posting Komentar